Laman

bisnis paling gratis
Welcome To Ueey's BLOg

Entri Populer

ENTRIqUU

bisnis paling gratis

Minggu, 11 Maret 2012

Stupid in Love




Berkali-kali ia melihat ke arah jam tangan Swatchnya yang berharga setengah juta rupiah sambil berharap 5 menit lagi seseorang itu akan datang. Sudah lewat 120 menit dari waktu yang di janjikan. Tapi orang yang ditunggu masih belum datang juga.

Mau menyelesaikan saja harus nunggu seperti ini. Gimana kalau seandainya gua minta balikan?! Nunggu berapa lama ngasih waktu dia mikir?, keluhnya dalam hati.

‘Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Coba ulangi beberapa saat lagi. Your dial number……’

Nomor Glenn sibuk mulu daritadi. Tapi tak ada satupun telepon masuk ke Blackberry Viona yang diberi silicon berwarna ungu. Warna kesukaannya.

Entah ini sudah keberapa kalinya Viona coba menghubungi Glenn. Jawaban yang sama selalu ia dengarkan dari operator yang sepertinya bekerja di semua provider itu.

Glenn, cowok yang ia tunggu-tunggu sejak 2 jam yang lalu. Namun sampai waktu menunjukkan 09.55pm pun, Glenn belum juga menunjukkan telinganya. Derap langkahnya pun tak terdengar sama sekali.

Sedangkan orang-orang satu per satu mulai meninggalkan N~Te Café, tempat Viona dan Glenn biasa menghabiskan waktu jika sedang berdua.

Viona kembali memutar memorinya di masa itu. Di saat Glenn masih seperti yang Viona inginkan. Teringat pertama kali Glenn memberikan cincin yang sengaja di letakkan di dalam cheese tiramisu, dessert favorite Viona. Dan saat Viona menemukan cincin itu, bagai sudah terencana dan dihitung sebelumnya, Glenn langsung memainkan lagu Yovie ‘n Nuno – Janji Suci. Suara Glenn yang lembut ditambah dentingan piano membuat suasana disitu semakin romantis.

Viona menarik nafas panjang. Seandainya waktu itu bisa terulang. Aku merindukanmu yang saat itu, Glenn. Tanpa sadar ia menitikkan air matanya.

‘Glenn, kamu dimana?’, tanya Viona dalam hati, sambil memutar jarinya pada lingkaran gelas yang tadinya berisi hot chocolate yang ada di depannya. sambil menahan airmatanya agar tak keluar lebih banyak lagi. Gelas ke 9 sejak 2 setengah jam yang lalu. Namun Glenn masih belum datang juga.

“Permisi, mbak. Café kami sebentar lagi akan tutup. Mbak masih mau menunggu?”, tanya seorang waiter ketika mengantarkan hot chocolate yang ke 10.

“Mmh.. Bukannya 24 hours ya?”, tanya Viona, memastikan kalau dia tidak akan beranjak dulu.

“Sudah lama café ini tidak menerapkan 24 hours lagi, mbak. Karna alasan keamanan”, jawab waiter tadi, sopan.

“Oh.. Ya sudah kalau begitu. Saya minta bill-nya ya?”, ujar Viona.

“Baik. Sebentar ya mbak”.

‘Sekarang nunggu dimana lagi? Glenn, kamu dimana?’, Viona melihat ke arah handphone yang sedari tadi ia genggam. Kalau-kalau Glenn menghubungi. Tapi sampai detik ini, tidak ada satupun tanda Glenn akan menghubunginya.

Glenn, café-nya udah mau nutup. Kamu kapan dateng? – message sent to Please, Don’t Go.

Nama Glenn di kontak Viona. Sesuai dengan harapan yang ada di hatinya saat ini.

“Ini bill-nya, mbak. Semuanya 250 ribu”, ujar waiter tadi.

“Oke. Ini..”, Viona menyodorkan 1 lembar pecahan 100 ribuan dan 3 lembar pecahan 50 ribuan kepada pelayan tadi.

Viona beranjak dari tempatnya duduk tanpa menyentuh hot chocolate yang ke 10. Keluar dari café dan pergi mengikuti arah angin. Entah berujung dimana. Yang ada dalam pikiran Viona saat itu adalah tetap menunggu Glenn.

Setelah berjalan kaki selama hampir 2 jam, Viona tiba di Rainbow Hills. Terduduk di bawah salah satu pohon besar yang ada disitu. Teringat saat itu, dibawah pohon itu. Disaksikan rumput liar, ilalang dan langit biru di hari Minggu yang cerah, Glenn memeluk Viona dari belakang, membisikkan bahwa ia berjanji akan selalu menjaga Viona apapun yang terjadi dan menyayanginya.

Namun semua itu tinggal kenangan. Sepertinya Glenn lupa dengan semua yang pernah ia katakan pada Viona.

2 tahun lebih bersama, mungkin Glenn sedang jenuh. Hingga memutuskan untuk mengakhiri semuanya hari ini.

Tapi sejak waktu yang dijanjikan untuk menyelesaikan semuanya, Glenn belum juga memberi tanda kapan ia akan datang dan Viona masih saja menunggu.

Pesan singkat yang dikirim Viona pun tidak ada balasan. Hampir jam 1 pagi. Viona masih diluar.

Viona mengambil handphonenya, nyoba buat ngehubungin Glenn.

“Kenapa, Vio?”, terdengar suara cowok diseberang. Sepertinya dalam keadaan setengah tidur.

“Glenn? Kamu lupa bukan janjian sama aku?”, jawab Viona setengah menahan airmatanya.

“Lupa apa?”, jawab Glenn, tanpa rasa bersalah.

Ya Tuhan, dia beneran lupa. Glenn masih gak berubah. Ujar Viona dalam hatinya, memaklumi sifat Glenn yang pelupa. Ia kenal banget cowok satu ini.

“Tuh kan lupa.. Tadi kan kita janjian mau ketemu. Buat nyelesaiin masalah. Aku berusaha ikhlas ama keputusan kamu kalau itu bikin kamu lebih baik”, ujar Viona lagi.

“Oh. Sorry. Janjian yang itu ya? Aku tadi nganterin Marine ke ulang tahun temennya. Tadi pas kamu sms aku lagi di tempat pesta. Gak aku bales soalnya pulsaku habis. Kamu dimana sekarang? Masih di café?

“Marine?”, Viona mengulang nama itu dengan nada tanya.

“Iya. Marine. Oh iya. Kamu belum aku ceritain ya? Dia temen kantor aku. Sekarang lagi deket sama dia”, jawab Glenn. Entah sengaja atau memang tak bisa merasakan hati Viona. Namun jawaban itu seperti mengalir tanpa beban dari mulut Glenn.

“Oh.. Iya yah? Ya ampun. Aku gak tahu. Udah lama sama Marine?”, tanya Viona seolah lupa dengan tujuan pembicaraan sebenarnya. Tentang janjian ketemu menyelesaikan ‘masalah’ diantara dia dengan Glenn.

“Hmm.. Belum lama. Sejak kita putus aja”, Glenn masih menjawab dengan sekenanya.

Viona menghela nafas panjangnya. Menahan tetesan airmata itu yang sebentar lagi akan keluar dari bendungannya.

Glenn lupa kalau mau menyelesaikan semuanya baik-baik. Glenn lupa kalau ia berjanji akan datang menemui Viona di café biasa untuk sekedar mengenang kalau rasa itu pernah ada untuk Viona. Glenn lupa kalau Vionna masih mengharapkan hubungannya dapat berjalan baik seperti sebelumnya. Glenn lupa kalau Viona bahkan berjanji akan berusaha menjadi seperti yang Glenn mau. Glenn lupa kalau bahkan sampai detik ini, Viona masih menunggu.

“Vio??”, panggil Glenn.

“Iya?”, jawab Viona, menahan tangis itu.

“Kamu dimana sekarang?”

“Aku?? Aku udah di rumah kok”, Viona berbohong. Lagipula, jika ia jujur, ia masih menunggu Glenn di tempat dimana Glenn memeluknya untuk yang pertama kali, mengucapkan janji itu apa Glenn akan peduli? Ia tidak mau sakit lagi. Cukup. Lebih baik ia berbohong. “Jadi, kita selesai?”, tanya Viona lagi, menahan rasa takutnya kalau-kalau jawaban dari pertanyaannya itu akan memecah bendungan airmata yang ia tahan sedari tadi. Namun ia sudah tahu, tanpa ia tanyakan pun, airmata itu akan tetap jatuh.

“Apanya yang selesai?”, tanya Glenn.

Tolong Tuhan, jangan biarkan Glenn meneruskan pertanyaan itu dan mengharuskanku untuk menjelaskan semuanya. Sakit, Tuhan..

“Oh.. Iya, Vio. Maaf tadi aku gak dateng. Maaf juga tadi aku gak ngabarin. Aku lupa. Kamu tau aku pelupa kan? Maaf ya. Dan masalah diantara kita, selesai, Vio. Maaf. Aku udah gak bisa bareng kamu lagi. Aku gak bisa nerima sikapmu itu. Jujur, aku masih sayang kamu. Aku masih peduli. Tapi maaf, kita udah gak bisa bareng lagi. Udah cukup untuk aku. Yang lalu, biarlah jadi kenangan terindah buat kita berdua. Maafin aku, Vio”, Glenn mengeluarkan semua hal yang sama sekali gak pernah pengen Viona dengarkan.

Sambungan terputus. Sengaja Viona akhiri. Ia sudah tak kuat menahan airmata itu.

Tuhan, lagi. Sakit itu terasa lagi. Sakit, Tuhan.

Viona membungkuk. Meringkuk, memeluk lututnya. Berteriak dalam tangisnya. Sakit. Cuma itu yang ia rasakan. Tak tahu harus apa lagi.

Ia berharap bisa kembali seperti semula, bahkan berjanji pada dirinya sendiri kalau kesempatan itu masih ada, semua akan baik-baik saja. Semua akan lebih baik. Ia janji.

Tapi janji itu kini hanya tersimpan di dalam hati dan tertahan di ujung bibirnya. Bahkan tertelan oleh sakit itu.

Dia masih sekedar dekat. Belum jadian. Aku yakin, Glenn masih punya cinta untukku. Apa yang terjadi selama ini, tak mungkin ia lupakan begitu saja. Aku yakin. Glenn pasti akan kembali ketika ia sadar bahwa aku satu-satunya yang akan menerimanya apa adanya. Aku akan menunggu, Glenn. Masih dengan hati itu. Tak akan ada yang berubah.

Glenn, dengarkan hati ku. Coba rasakan sakit itu, sayang. Jangan biarkan aku sakit. Kembali. Aku menunggumu…

Viona tenggelam dalam tangisnya. Ia masih berharap Glenn akan datang, memeluknya seperti saat itu. Berjanji tidak akan pernah meninggalkannya walaupun ada ribuan Marine di depannya.

Entah bodoh, atau apalah namanya, Viona masih akan tetap menunggu. Meski waktu harus menghentikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar